Siwa central Java 7-8 centuries

  



Pemujaan kepada dewa Siwa sebagai yang di utamakan di tara ketiga dewa tertinggi dalam agama Hindu,

Pada hakikatnya naskah klasik peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia menyimpan berbagai buah pikiran adiluhung, karena merupakan curahan atau rekaman pengalaman jiwa para leluhur yang mencerminkan kehidupan sosial, budaya, religius, dan lainnya dari masyarakat pada zaman dulu. Warisan nenek moyang yang berharga itu perlu dibina untuk kepentingan inventarisasi, sumber informasi, dan perkembangan khazanah ilmu pengetahuan. Nilai-nilai positif dari naskah klasik tersebut mesti diteruskan kepada generasi muda, karena semua itu merupakan harta karun bangsa Indonesia yang mesti dibongkar dan diteliti

Dengan demikian maka kedudukan dewa Siwa dilihat kesejajarannya dengan raja , 

Kepercayaan leluhur yang dianut banyak masyarakat jawa Pra Islam (Majapahit) pada dasarnya mencangkup konsepsi tentang kosmogoni dan kosmologi. Mereka diharuskan untuk mengadakan hubungan dengan makhluk halus atau roh yang berada dialam semesta agar tercipta hubungan yang selaras antara dua makhluk yang berbeda unsur yang nantinya di percayai dapat mendatangkan keselamatan dan kemakmuran. Sehubungan dengan hal tersebut, pada akhirnya muncul lah bentuk-bentuk upacara pemujaan terdapat roh nenek moyang atau roh-roh yang didewakan. Konsep kepercayaan leluhur pada hakikatnya tetap menjiwai konsep religi dimasa berkembangnya agama siwa 

http://repository.uinbanten.ac.id/4161/4/BAB%20II%20FIX.pdf


Comments

Populer